Banyak orang mengira anak yang bisa coding di usia muda adalah anak ajaib, terlahir dengan komputer canggih dan koneksi internet super cepat. Kenyataannya? Jauh dari itu. Kisah gue dimulai dari sebuah laptop ThinkPad bekas yang lemot, koneksi internet kuota yang pas-pasan, dan kegemaran menginstal game bajakan yang selalu berakhir dengan error.
ThinkPad Bekas dan Guru Pertama: Error DLL
Gue pertama kali punya laptop pas kelas 4 SD. Itu adalah ThinkPad Intel i5 Gen 4 bekas yang berat, tebal, dan mungkin usianya lebih tua dari gue saat itu. Tapi buat gue, benda itu adalah pintu gerbang ke dunia baru. Sementara teman-teman sebaya gue sibuk main game di HP, gue lebih tertarik ke game PC. Masalahnya? Game PC original itu mahal banget buat kantong keluarga gue. Jadi, gue melakukan apa yang dilakukan jutaan anak Indonesia lainnya: membajak.
Gue berselancar di forum-forum internet liar, mengeklik tombol download palsu yang penuh dengan pop-up iklan aneh, demi mendapatkan file game yang gue mau. Proses download-nya pun butuh perjuangan berat. Internet di rumah gue lambat dan kuotanya terbatas. Seringkali gue harus mendownload file belasan gigabyte semalaman penuh, berdoa agar koneksinya nggak putus di tengah jalan.
Dan bayangkan gimana rasanya, setelah nunggu berjam-jam, begitu file-nya diekstrak dan dijalankan, yang muncul bukan loading screen game—melainkan kotak dialog error merah menyala:
"Missing DLL file." atau "DirectX error. Compatibility mode required."
Kecewa banget? Pasti. Tapi di situlah mental keras kepala gue terbentuk. Gue nggak mau pasrah begitu aja. Gue buka Google dan mulai mengetik solusi error tersebut. Gue diarahkan ke forum-forum luar negeri, mendownload file DLL mentah secara manual, memindahkan file tersebut ke folder System32, mematikan Windows Defender secara manual sebelum menginstal, dan mencocokkan spesifikasi hardware.
Ketika game itu akhirnya jalan, rasanya kayak menang taruhan besar. Gue bahkan sampai sujud syukur di kamar sendirian. Tanpa sadar, proses troubleshoot game bajakan ini mengajarkan gue dasar-dasar programming yang sangat berharga: riset mandiri lewat Google, problem solving sistematis, pemahaman file system, navigasi risiko internet, dan persistensi tingkat tinggi.
Mimpi 'Hacker' yang Salah Dipahami
Di masa SMP, ketertarikan gue bergeser setelah menonton film hacker. Gue melihat adegan seseorang mengetik cepat di layar gelap dengan teks hijau berjalan, mampu meretas sistem apa pun secara instan. Gue pikir, "Gila, ini keren banget."
Logika anak SMP gue saat itu sederhana: Hacker = orang yang jago komputer. Orang yang jago komputer = programmer. Jadi, gue harus jadi programmer! Meskipun definisi programmer di kepala gue saat itu salah besar (gue pikir programmer itu ya hacker di film-film), niat itu tetap membawa gue ke arah yang benar. Gue mulai belajar WordPress di sekolah, membuat website sederhana, dan belajar Scratch (pemrograman visual berbasis blok). Hasilnya? Gue mendapatkan nilai WordPress terbaik di kelas, yang menjadi validasi awal bagi gue di dunia IT.
Gemeteran di Panggung: Menghadapi Kelemahan Terbesar
Tapi hidup gue nggak cuma di depan layar komputer. Saat masuk kelas 9, ada kewajiban memilih ekskul. Niat awal gue adalah masuk ekskul desain karena gue suka ngulik Canva dan CapCut. Tapi karena satu dan lain hal, gue malah dimasukkan ke ekskul English Storytelling Club. Ini adalah mimpi buruk bagi gue.
Gue adalah anak yang pemalu dan punya ketakutan luar biasa pada public speaking. Pertama kali disuruh tampil bercerita di depan belasan orang, seluruh tubuh gue gemeteran hebat, suara gue tercekat, dan gue ditertawakan satu ruangan. Rasanya gue pengen menghilang saat itu juga.
Tapi guru pembina gue nggak menyerah. Beliau terus melatih gue, mengajarkan gue cara menggunakan alat peraga, mengontrol ekspresi, dan mengeraskan suara. Gue pun latihan gila-gilaan di rumah, bercermin, merekam suara gue sendiri, dan mengoreksinya berulang kali. Hasil dari latihan keras kepala itu? Gue terpilih mewakili sekolah di lomba storytelling tingkat daerah, dan gue berhasil meraih Juara 1. Hadiahnya? Uang tunai yang gue pakai untuk membeli laptop Axioo Pongo—laptop gaming pertama gue yang akhirnya bisa gue pakai untuk belajar coding dengan layak.
Puncaknya adalah saat wisuda SMP. Gue diminta memberikan pidato kelulusan dalam bahasa Inggris. Di depan ribuan orang—orang tua, guru, dan teman-teman—gue berdiri di podium tanpa membawa teks sama sekali. Gue menyampaikan pidato dengan lancar, lantang, dan disambut tepuk tangan meriah. Momen itu mengajarkan gue satu hal penting: kelemahan terbesar kita bisa diubah menjadi kekuatan terbesar, asal kita punya niat yang keras kepala untuk memperbaikinya.