Setelah lulus SMP dengan bekal kemampuan bahasa Inggris yang kuat dan laptop Axioo Pongo baru, fokus gue sepenuhnya beralih ke dunia IT. Gue pengen jadi programmer profesional. Dan jalan pertama yang gue bayangkan adalah masuk ke sekolah kejuruan (SMK) khusus IT.
Kodein: Impian vs Realita
Sekolah pertama yang gue pilih adalah Kodein, sebuah IT boarding school yang menjanjikan kurikulum coding intensif. Gue sangat bersemangat saat pertama kali masuk. Gue bayangin di sana gue bakal ngoding seharian penuh, membuat aplikasi, dan berdiskusi tentang arsitektur software.
Tapi karena gue baru sekolah di sana selama 3 bulan saja waktu itu, materi yang gue dapatkan masih didominasi oleh pelajaran tahfizh Quran dan penguasaan bahasa Inggris, belum menyentuh coding intensif yang gue harapkan. Melihat perkembangan gue yang dirasa kurang di fase awal ini, orang tua gue menyuruh gue untuk pindah sekolah saja agar tidak membuang waktu. Akhirnya, gue memutuskan untuk keluar dari sana.
Imam Nafi: Garasi IT, Lomba, dan Outgrown
Gue nggak menyerah setelah keluar dari Kodein. Gue mencari sekolah alternatif lain dan menemukan Rumah IT Al Imam Nafi'. Ini bukan gedung sekolah megah dengan aula besar, melainkan sebuah rumah tinggal di kawasan kompleks perumahan yang disulap menjadi tempat belajar mandiri. Saat gue masuk pertama kali, populasinya sangat kecil: cuma ada 3 murid kelas 11, dan gue satu-satunya murid kelas 10 di angkatan itu. Suasananya intim, mirip kayak belajar bareng di garasi—cuma isinya ilmu, bukan mobil.
Meskipun gue paling muda dan dikelilingi kakak kelas yang sudah bisa menulis kode, mental nggak mau kalah gue langsung menyala. Berbekal dasar-dasar HTML dan CSS yang gue pelajari otodidak sejak SMP, gue belajar sangat cepat. Bertanya ke siapa saja tanpa gengsi, mencoba terus sampai paham. Hasilnya? Gue berhasil menjadi murid dengan pemahaman terbaik di materi HTML, CSS, hingga JavaScript, mengungguli kakak kelas.
Setahun di Imam Nafi diisi dengan pengalaman dunia nyata yang luar biasa. Guru kami mulai membawa kami magang langsung di lapangan. Magang pertama gue adalah di acara konferensi internasional kelautan, CIMA. Di sana gue pertama kali memegang kamera siaran TV profesional yang harganya puluhan juta rupiah, belajar setting exposure, white balance, dan framing layaknya mahasiswa broadcasting. Hanya 2 murid yang terpilih ikut, dan gue salah satunya. Project dunia nyata berikutnya adalah membangun landing page travel umroh Diva Kencana Madinah.
Gue juga sempat mengikuti lomba video editing motivasi bahasa Arab dari STDI Jember. Rekan pertama gue di luar sekolah tidak serius, membuat gue hampir menyerah. Namun seminggu sebelum deadline, gue mengajak teman sekolah di Imam Nafi yang jago bahasa Arab. Kami syuting 2 hari, gue ngedit 2 hari nonstop di laptop Axioo Pongo yang panas membara, dan mengunggahnya sehari sebelum batas waktu. Kami meraih Juara 2, hanya kalah dari tim animasi SMA Mutis—sekolah SMP gue sendiri.
Namun, seiring berjalannya waktu, sekolah ini mulai tumbuh. Murid-murid baru berdatangan dari SMP dan SD (bahkan beberapa pindahan dari Kodein). Di sinilah masalah dimulai: kurikulum di kelas terpaksa direset kembali ke nol. Kami yang murid lama mulai stuck dan tidak berkembang karena materi HTML/CSS dasar terus-menerus diulang. Parahnya, gue malah sering ditugaskan untuk mengajarkan murid-murid baru tersebut. Logika gue memberontak: "Gue di sini bayar buat belajar, kenapa jadi gue yang ngajar terus?"
Gue mulai membeli kursus online sendiri di kamar untuk mengejar Laravel dan database karena sekolah tidak memfasilitasi materi lanjut. Kami sempat merencanakan tim freelance bernama BaruDawg IT untuk mencari project luar secara mandiri, tapi sayangnya tim ini hanya berakhir jadi wacana tanpa eksekusi nyata.
Kondisi memuncak ketika para orang tua murid lama mulai mengeluh karena progres anak-anak mereka mandek. Respons guru kami justru defensif dan baper. Komunikasi antara beliau dan murid lama putus total; beliau hanya fokus mengajar murid baru yang masih nurut. Akses fasilitas kami dibatasi, dan gue merasa dikhianati oleh sosok yang selama ini gue anggap mentor. Satu per satu murid lama mulai keluar.
Setelah hampir setahun bertahan dalam ketidakpastian dan drama sekolah, ditambah duka mendalam karena kehilangan nenek tercinta, gue mengambil keputusan bulat di pertengahan kelas 11. Gue melangkah keluar dari Imam Nafi. Gue tahu, jika gue tetap bertahan di sana demi formalitas, gue hanya akan kehilangan aset paling berharga: waktu belajar gue.
Keputusan Keluar dan Memilih Paket C
Gue memutuskan keluar dari sekolah untuk ketiga kalinya. Ini adalah keputusan yang sangat berisiko bagi anak seusia gue di Indonesia. Teman-teman sebaya gue semuanya berada di sekolah formal, belajar mata pelajaran umum, bersiap untuk ujian nasional dan masuk kuliah. Sementara gue? Berada di kamar, tanpa seragam, dan memilih untuk mendaftar ujian kesetaraan Paket C (Homeschooling).
"Buat apa sekolah formal kalau kurikulumnya nggak bisa ngejar apa yang industri butuhin sekarang? Gue bisa belajar lebih cepat dari kamar tidur gue sendiri."
Banyak orang meragukan keputusan gue. Tetangga berbisik, kerabat khawatir tentang masa depan gue tanpa ijazah sekolah formal yang mentereng. Tapi gue tahu apa yang gue mau. Di kamar gue, gue membuat kurikulum belajar gue sendiri. Gue mempelajari HTML, CSS, JavaScript, PHP, Laravel, hingga database secara intensif. Gue ngoding dari pagi sampai malam, mempraktikkan teori langsung ke project nyata, dan menggunakan media sosial untuk membagikan proses belajar gue.
Keputusan drop out bukanlah tindakan melarikan diri dari tanggung jawab belajar. Justru sebaliknya: itu adalah bentuk tanggung jawab penuh atas masa depan gue sendiri. Gue memilih untuk tidak mengikuti arus aman yang lambat, melainkan melompat ke arus deras yang menuntut gue untuk belajar dan bertahan sendirian.