Back to Blog
Part 6 of 6 2026-06-14 5 min read

Commit, Push, Repeat: Part 6 — Era AI, Tiga Sistem Travel, dan Refleksi Karir

Personal Journey Artificial Intelligence Career

Dunia teknologi bergerak sangat cepat, dan begitu pula kisah perjalanan gue. Setelah pencapaian sistem keamanan NASA dan pengerjaan monorepo travel sebelumnya, operasional travel umroh terus berkembang pesat. Saat tulisan ini dibuat, tanggung jawab gue bertambah besar: gue sekarang mengelola dan men-maintain tiga sistem travel umroh secara bersamaan.

Era AI: Mengintegrasikan Kecerdasan Buatan dalam Workflow Harian

Di sela-sela kesibukan mengelola tiga sistem tersebut, gue menyadari bahwa ada satu gelombang teknologi besar yang tidak boleh dilewatkan: Artificial Intelligence (AI). Gue mulai bergabung dengan komunitas-komunitas AI, berdiskusi, dan belajar bareng tentang bagaimana memanfaatkan AI secara maksimal.

Gue memutuskan untuk fully menggunakan AI dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Gue bereksperimen dengan berbagai macam tools AI, dari yang paling premium dan mahal hingga yang murah dan open-source. AI bukan lagi sekadar mainan atau pembuat chat otomatis buat gue, melainkan asisten produktivitas yang mempercepat coding, debugging, penyusunan dokumentasi, hingga perencanaan arsitektur sistem.

Namun, di era AI ini, perspektif gue juga banyak berubah. Semakin ke sini, gue semakin sadar bahwa kemampuan ngoding dan menguasai teknologi di usia muda bukanlah sesuatu yang istimewa lagi. Gue sering melihat anak-anak dengan usia jauh di bawah gue yang luar biasa hebat—bahkan gue pernah melihat anak SD kelas 5 yang sudah jago di bidang cybersecurity, pemrograman, dan integrasi AI. Di era AI sekarang, sekat batasan belajar itu seakan runtuh. Siapa pun bisa jadi hebat dan ahli di bidangnya, tanpa memandang umur, asalkan dia punya kemauan keras untuk terus belajar dan memanfaatkan teknologi yang ada.

Untuk membagikan apa yang gue pelajari, gue mulai aktif di media sosial baru seperti Threads. Di sana, gue sharing tentang pengalaman menggunakan AI, bertukar pikiran dengan sesama developer, dan ngobrol santai mengenai perkembangan teknologi terbaru. Media sosial bukan lagi tempat membuang waktu, melainkan sarana bertukar ilmu.

Pertemuan dengan Kenalan Odoo & Realita Mencari Tantangan Baru

Sebenarnya, beberapa waktu ke belakang, gue mulai memiliki keinginan untuk mencari tantangan baru di tempat kerja yang berbeda. Gue merasa butuh lingkungan baru untuk terus bertumbuh. Beberapa minggu yang lalu, gue tidak sengaja bertemu dengan seorang kenalan yang bekerja di Odoo (salah satu perusahaan ERP global ternama).

Kami mengobrol singkat tentang peluang dan dunia kerja di sana. Namun, dari dinamika percakapan tersebut, gue bisa menarik kesimpulan sendiri: beliau tampaknya sudah tidak begitu tertarik untuk merekrut gue lagi. Tentu ini hanya pandangan dan asumsi pribadi gue—mungkin karena di sana mereka sudah mulai mengoptimalkan penggunaan AI secara masif sehingga kebutuhan resource berkurang, atau mungkin beliau menganggap obrolan gue hanya basa-basi belaka.

Momen ini awalnya terasa seperti penolakan halus yang mematahkan semangat. Namun, berbekal mental keras kepala yang sudah terlatih sejak zaman Kodein dan Imam Nafi, gue tidak mau berlarut-larut dalam kekecewaan.

Fokus Masa Depan: Mengembangkan Diri & Menunggu Waktu yang Tepat

Pada akhirnya, kejadian itu memberikan gue perspektif baru. Daripada memaksa masuk ketika keadaan belum pas, gue memilih untuk fokus pada diri sendiri saat ini. Gue akan terus meningkatkan skill, menguasai tools AI terbaru, memantapkan kemampuan fullstack, dan melatih pemecahan masalah.

Ketika kemampuan gue sudah jauh lebih siap dan matang, gue akan kembali mencari peluang—baik dengan bertanya langsung ke kenalan industri mengenai kesempatan kerja, maupun mencari lowongan magang atau remote developer secara online.

Perjalanan ini masih panjang, dan setiap hambatan hanyalah koma, bukan titik.

Commit. Push. Repeat.