Back to Blog
Part 3 of 6 2026-06-13 7 min read

Commit, Push, Repeat: Part 3 — Gagal Freelance & Deadline 48 Jam Indosat

Freelancing Failure High-Pressure Delivery

Belajar coding dari kamar tanpa sekolah formal itu menuntut disiplin yang luar biasa. Dan ujian nyata pertama dari jalan yang gue pilih ini datang ketika gue mencoba masuk ke dunia kerja nyata melalui freelance.

Project Laravel Pertama dan Kegagalan Klasik

Project freelance pertama gue didapatkan dari klien lokal yang ingin membuat website e-commerce jersey olahraga menggunakan Laravel. Gue sangat bersemangat dan langsung mengiyakan tanpa memikirkan kontrak kerja yang jelas. Nilai project-nya tergolong sangat murah untuk ukuran sistem e-commerce, tapi buat gue saat itu, uang sekecil apa pun terasa sangat berharga.

Di situlah gue belajar tentang musuh terbesar developer freelance: Scope Creep.

Setiap kali gue menyelesaikan satu fitur, klien selalu meminta tambahan fitur baru secara sepihak tanpa menambah biaya. "Mas, bisa sekalian tambahin sistem tracking kurir?" "Mas, tolong tambahin fitur promo diskon bertingkat ya." Karena gue masih polos dan nggak enak hati untuk menolak, gue selalu bilang iya. Pekerjaan menumpuk, timeline berantakan, dan gue mulai merasa tertekan.

Di saat yang sama, gue terpukul oleh kabar duka: nenek tercinta gue, sosok yang selalu mendukung gue, meninggal dunia. Pikiran gue berantakan. Gue kehilangan fokus sepenuhnya. Project e-commerce tersebut terbengkalai, komunikasi dengan klien memburuk, dan akhirnya project tersebut dinyatakan gagal dan dibatalkan. Gue kehilangan uang, waktu, dan kepercayaan diri gue hancur.

Terpuruk dalam Game dan Kemarahan Ayah

Kegagalan pertama itu membuat gue lari dari kenyataan. Gue kembali ke dunia yang paling aman buat gue saat itu: PC game. Selama berminggu-minggu, gue mengurung diri di kamar, bermain game dari pagi sampai malam, mengabaikan coding, dan mengabaikan masa depan gue. Gue menggunakan game sebagai pelarian dari rasa bersalah atas kegagalan freelance gue.

Hingga suatu hari, ayah gue masuk ke kamar. Beliau melihat gue yang berantakan, hanya duduk di depan layar game, dan beliau marah besar. Kemarahan beliau bukan kemarahan yang kasar, tapi kemarahan yang sarat akan kekecewaan mendalam. Beliau mengingatkan gue tentang keputusan besar yang udah gue ambil: keluar dari sekolah formal demi coding. "Kalau cuma mau main game kayak gini, kenapa kamu harus keluar sekolah?"

Kata-kata itu rasanya kayak ditampar keras di wajah gue. Gue tersadar dari tidur panjang. Hari itu juga, gue menghapus semua game di laptop gue, merapikan meja kerja gue, dan berkomitmen untuk tidak menyentuh game lagi sampai gue berhasil membuktikan keputusan gue benar.

Tantangan Gila 48 Jam: Project Indosat

Gue mulai membangun kembali reputasi gue di media sosial. Dan kesempatan kedua yang tidak terduga datang melalui PT Lintas Teknologi Indonesia. Mereka membutuhkan sebuah video presentasi berbasis Generative AI untuk acara kick-off tahunan Indosat. Masalahnya? Deadline-nya sangat tidak masuk akal: 48 jam!

Banyak developer atau editor video yang akan menolak tugas ini karena risikonya terlalu besar. Tapi buat gue yang baru bangkit dari kegagalan, ini adalah pembuktian diri. Gue terima tantangan itu.

Dua hari itu adalah pertempuran fisik dan mental terbesar yang pernah gue alami. Gue bekerja nonstop dari pagi ketemu pagi lagi. Gue menggunakan tools Generative AI untuk membuat aset gambar, menyusun naskah suara (voiceover) bahasa Inggris yang meyakinkan, mengedit video, menyinkronkan audio, dan melakukan rendering berulang kali di laptop Axioo Pongo gue yang meraung-raung kepanasan.

Gue hampir nggak tidur. Mata gue merah, punggung rasanya mau patah, dan kopi hitam jadi satu-satunya bahan bakar gue. Tepat sebelum batas waktu habis, video tersebut selesai dirender dan langsung gue kirimkan ke tim Lintas.

Hasilnya luar biasa. Video tersebut ditayangkan di depan jajaran direksi dan peserta acara Indosat dengan respon yang sangat positif. Gue berhasil deliver di bawah tekanan tinggi. Keberhasilan ini bukan cuma soal uang yang gue dapatkan, tapi tentang kembalinya keyakinan gue bahwa gue mampu menyelesaikan masalah sulit dalam waktu singkat.