Back to Blog
Part 4 of 6 2026-06-13 6 min read

Commit, Push, Repeat: Part 4 — Solo Developer untuk Enterprise System Umroh

Software Architecture Enterprise System Solo Developer

Setelah keberhasilan project Indosat, gue semakin aktif membagikan karya dan proses ngoding gue di LinkedIn dan Instagram. Personal branding yang gue bangun secara konsisten ini akhirnya membuka pintu karir terbesar dalam hidup gue di usia 17 tahun.

Pertemuan di Masjid dan Pesan ke CEO

Suatu hari, gue sedang beribadah di sebuah masjid di Jakarta dan tidak sengaja bertemu dengan CEO dari Sahabat Qolbu, sebuah perusahaan travel umroh yang sedang berkembang pesat. Kami sempat mengobrol singkat tentang dunia IT. Beliau tertarik dengan antusiasme gue dan menawarkan gue untuk ikut membantu sistem IT mereka.

Awalnya, gue menolak tawaran tersebut. Gue jujur bilang bahwa gue merasa belum cukup berpengalaman untuk menghandle sistem sebuah perusahaan travel umroh. Gue nggak mau overpromise dan berujung mengecewakan beliau.

Tapi beberapa bulan kemudian, setelah gue merasa skill gue bertambah melalui project-project kecil lainnya, gue memberanikan diri mengirim pesan ke CEO tersebut. Gue bilang gue sudah siap untuk berkontribusi. Respon beliau sangat mengejutkan:

"Oke, Hammad. Langsung kerja aja hari Senin."

Gue diterima bekerja sebagai satu-satunya developer internal (solo developer) di usia 17 tahun, bahkan sebelum gue menyelesaikan Paket C.

Membangun Sistem Enterprise Sendirian

Ketika gue masuk ke kantor pada hari pertama, gue menyadari bahwa sistem IT mereka masih sangat manual dan terfragmentasi. Data jamaah dikelola menggunakan spreadsheet yang terpisah-pisah, rawan kesalahan input, dan tidak efisien untuk melayani ribuan jamaah yang mendaftar setiap musimnya.

Tugas gue adalah membangun sebuah ekosistem digital terpadu (Enterprise System) yang mengotomatisasi seluruh proses bisnis Sahabat Qolbu dari nol. Dan gue harus melakukannya sendirian.

Gue merancang arsitektur sistem menggunakan struktur **Monorepo** untuk memudahkan maintenance. Sistem ini terdiri dari beberapa komponen utama:

  • Backend Server: Node.js API server yang stabil untuk menangani seluruh logika bisnis, kalkulasi harga paket, dan integrasi pembayaran.
  • Internal Dashboards (5 Workspace): Dashboard khusus untuk tim Admin, Keuangan, Operasional, Handling Bandara, dan Logistik Perlengkapan. Masing-masing workspace memiliki hak akses data yang berbeda-beda.
  • Agent Portal: Dashboard khusus untuk agen pemasaran agar bisa mendaftarkan jamaah secara mandiri dan memantau komisi secara real-time.
  • Public Website: Halaman landing page modern bagi calon jamaah untuk melihat paket umroh dan melakukan pendaftaran online.

Tekanan dan Tanggung Jawab Nyata

Bekerja sebagai solo developer untuk sistem yang menangani transaksi jutaan rupiah dan data sensitif ribuan jamaah adalah beban yang sangat berat. Setiap baris kode yang gue tulis memiliki dampak langsung pada operasional perusahaan. Jika server down selama satu jam, tim finance tidak bisa memverifikasi pembayaran, tim operasional tidak bisa memproses visa, dan agen tidak bisa melakukan booking kursi penerbangan.

Gue belajar banyak hal baru dalam waktu singkat: mengoptimalkan query database PostgreSQL, mengatur server VPS di cloud, mengonfigurasi SSL keamanan, hingga menangani error production di jam-jam yang tidak terduga. Seringkali gue menerima telepon darurat ketika ada bug yang mengganggu proses handling jamaah di bandara.

Meskipun berat dan melelahkan, berada di posisi ini memberikan gue pengalaman berharga yang tidak akan pernah gue dapatkan di sekolah formal atau kuliah tingkat awal. Gue dipaksa menjadi dewasa secara profesional di usia 17 tahun, mengelola ekspektasi manajemen, dan menghadirkan solusi teknologi nyata yang mempermudah kerja banyak orang.

Kerja Bareng Teman Seperjuangan & Realita Industri

Bekerja sebagai solo developer memang keren, tapi seiring berkembangnya operasional travel, gue merasa butuh dukungan ekstra di bagian kreatif dan konten. Sekitar akhir Januari, gue menghubungi salah satu teman dekat gue. Dia adalah orang yang mendampingi gue sejak zaman di Kodein, Imam Nafi, hingga memenangkan lomba editing bersama dua kali. Kebetulan dia adalah seorang desainer grafis dan editor video, yang secara akademis juga sama-sama menempuh jalur PKBM (homeschooling) online kayak gue.

Gue tawarkan dia untuk bergabung, dan alhamdulillah dia lolos proses interview dan diterima bekerja bareng gue di kantor. Nggak lama setelah itu, beberapa minggu kemudian, teman gue satu lagi yang bersamaku dari zaman SMP, Kodein, dan Imam Nafi juga tertarik untuk bergabung untuk magang. Dia melamar langsung ke kantor dan diterima magang selama 3 bulan, bedanya dia tetap memilih jalur sekolah formal SMK.

Hari-hari kami lewati bersama di kantor: gue fokus membangun dan menstabilkan sistem web enterprise travel, sementara mereka menghandle aset visual, pembuatan konten, dan membantu tugas kreatif harian. Namun realita industri itu keras. Begitu masa magang dan kontrak kerja teman-teman gue habis, manajemen perusahaan keputusan untuk tidak memperpanjang masa kerja mereka karena hasil kinerja dirasa belum memenuhi target target bisnis perusahaan. Momen itu menyadarkan gue bahwa dunia profesional menuntut performa konkret, bukan sekadar kebersamaan.